Saat segalanya berjalan sesuai dengan harapan sangat mudah bagi kita
untuk bersukacita, namun bagaimana bila harapan kita tidak terjadi, justru
sebaliknya semakin buruk? Apakah kita dapat bersukacita dan terus mempercayai bahwa Tuhan bisa mengendalikan
situasi tersebut? Seharusnya jawabannya adalah “Ya”. Mengapa? Sebagai orang yang percaya
kepada Tuhan kita harus memiliki kepercayaan bahwa segala sesuatu yang telah
kita serahkan kepada Tuhan itu akan berada di dalam kendali Tuhan, dan sudah
pasti semua yang berada dalam kendali Tuhan tidak akan pernah lepas kendali.
Terlalu sering kita berpikir sama seperti orang-orang pada umumnya.
Kita yang percaya kepada Tuhan seharusnya memiliki respon dan cara berpikir
yang berbeda dari yang lainnya dalam menghadapi masalah. Kenyataan yang
terjadi, terkadang kita tidak bisa membedakan mana orang yang percaya kepada
Tuhan dan mana yang tidak; mana yang merespon dengan iman dan yang merespon dengan emosi.
Ketika saya berada di RS. Kanker Darmais dan menunggu istri saya yang
masih dirawat di ruangan ICU[1], saya mendengar
kabar buruk dari beberapa pasien yang berada diruangan ICU tempat yang sama
dengan istri saya dirawat. Mereka berasal dari berbagai daerah ada yang dari
Tanjung Pinang, Banten, Padang, Medan. Belum sampai 24 Jam istri saya di rawat
di ICU, satu persatu pasien-pasien tadi dikabarkan telah meninggal.
Saya tahu istri saya telah sadar ketika ia dipindahkan ke ruangan ICU.
Namun saya belum bisa diijinkan masuk ke dalam untuk menemuinya, dia masih
diisolasi dan saya hanya bisa melihatnya dari kaca. Nampak tubuhnya kaku tidak berdaya.
Ia dibaringan di tempat tidur dengan banyaknya selang yang melekat ke tubuhnya.
Melihat kenyataan itu, indera penglihatan saya langsung kontak dengan hati
saya, ada suatu perasaan gelisah yang mulai menyelubungi pikiran saya, “Tuhan, ternyata
setelah operasi perjuangan kami belum selesai”. Hanya beberapa saat saja saya
bisa melihat dia dari kaca, setelah itu petugas menutup kaca itu. Tidak lama
setelah itu, saya mulai mendengar kabar-kabar kematian, mereka yang dirawat
diruangan ICU bersama-sama dengan Hermin, satu persatu menemui ajalnya. Keadaan
yang saya lihat dari jendela dan Informasi kabar buruk yang telah saya dengar
mulai mengrogoti ketenangan saya.
Sepertinya rasa gelisa datang dengan sendirinya. Saya memejamkan mata
saya dan berusaha menenangkan diri dengan berdoa. “Tuhan, saya percaya istri
saya baik-baik saja, saya mohon Engkau memulihkan dia dengan cepat. Segala
sesuatu yang tidak normal di dalam kepalanya, di dalam seluruh tubuhnya,
biarlah oleh bilur-bilur Tuhan Yesus menjadi normal kembali, menjadi sembuh.” Peperangan dipikiran begitu kuat. Rasanya
tidak mudah menyingkirkan kegelapan yang sementara menancapkan kakinya di kepala
saya. Kata-kata kematian mulai membayangi pikiran ini. Jantung saya tanpa
diperintahkan mulai berdetak lebih kencang. Saat saya berdiam suara itu makin
kuat berbicara. Kabar kematian beberapa pasien saat itu benar-benar menganggu
saya. Roh saya mulai bangkit dan memperkatakan iman. Saya kemudian menolak kegelapan
ini dan mulai memperkatakan iman, Di dalam nama Tuhan Yesus saya percaya istri
saya sudah sehat, sudah pulih, sudah sembuh. Dengan berdoa dan memperkatakan
iman, membantu saya untuk dapat menenangkan diri. Sampai jantung saya berdetak
kembali dengan normal.
Akhirnya kini giliran saya dipanggil suster, “Keluarga ibu Hermin”,
seru suster tersebut. “Saya suster”, sahut saya. “Bapak, suaminya”, tanya ya. “Iya,
benar suster” jawab saya. “Ibu mau makan, ia meminta suaminya untuk
menyuapnya.” Katanya. “Puji Tuhan” seru saya kegirangan.
Anda tahu bagaimana girangnya hati saya? Jika Anda mengerti betapa mengerikannya
kabar buruk maka Anda akan mengerti betapa indahnya kabar baik. Setelah mendengar berita-berita yang
buruk, saya mendengar kabar yang baik. hati saya gembira sungguh tidak
terkatakan. Saat saya melihat istri saya diruangan ICU, saya tidak bisa menahan
air mata saya, saya begitu emosional, apa lagi saya masih sempat menyaksikan
kesibukan petugas-petugas di ruangan ICU yang sedang memindahkan salah satu
pasien yang baru saja meninggal dunia. Rasa-rasanya menyuap kekasih hati saya,
diruangan ICU begitu sangat berharga, dan itu adalah anugerah yang indah yang Tuhan berikan bagi saya dan keluarga saya...
PESAN PENTING UNTUK PARA SUAMI!
Pesan saya kepada para suami, cintailah
istrimu dikala sehat. Mungkin saat ini dia kelelahan dan menantikan dirimu
untuk menyegarkan dirinya. Jangan katakan engkau tidak memiliki waktu untuknya,
saat inilah waktu yang tepat dan merupakan sebuah kesempatan yang berharga supaya Anda memberikan perhatian-perhatian yang
kecil tetapi sungguh berarti. Contohnya seperti mengajak dia makan malam, mengajak dia bercanda,
memperlakukan dia dengan penuh kasih sayang dengan memberikan pelukan hangat dan lain sebagainya. Untuk sesaat letakkan egomu dan
kepentinganmu, fokus Anda hanya untuk membuat istrimu bergembira. Dia pasti
tidak akan melupakan kejadian yang sangat berharga itu. Selain itu dengan penuh
sukacita iya akan melayani suaminya dan anak-anaknya. Jangan menunggu dia sakit
baru engkau memberikan perhatian, saat inilah waktu yang tepat ketika dia sehat
itu jauh lebih bermanfaat.
"Jika Anda mengerti betapa mengerikannya kabar buruk maka
Anda akan mengerti betapa indahnya kabar baik;
suapan itu sangat berharga"!
suapan itu sangat berharga"!
BERSAMBUNG.... Part 2 : Tumor Otak Telah membuat dia sakit kepala tiap hari, membutakan kedua matanya, ingatannya mulai hilang dia lupa dia sakit, kelumpuhan menyerang, bicaranya mulai bisa.... dia menulis lagu yang indah... STILL BELIEVE
With Pray And Love
By: Karter
[1] ICU Atau ICCU (Intensive Care Unit/Intensive Cardiac
Care Unit) adalah layanan rumah sakit yang memberikan asuhan keperawatan secara
terkosentrasi dan lengkap. Unit ini memiliki tenaga perawat yang terlatih
khusus dan berisi peralatan pemantauan dan dukungan khusus untuk pasien yang
membutuhkan perawatan dan observasi intensif dan komprehensif, karena syok,
trauma, atau kondisi yang mengancam jiwa (www.kamuskesehatan.com/arti/icu).

Tulisan yang memotivasi dan mengajarkan bagaimana menghargai pasangan kita. Belajar menerima dan saling mendukung sebagai pasangan. TYM
BalasHapusAmin, amin, amin God bless you too
Hapussangat memberkati...
BalasHapusand touching
😇😇😇😇
prise the Lord Rintha, you are the winner in Christ
HapusKasih Tuhan menyertai kelrga bpk..sangat menyentuh hati dan memberkati sy...wlpn tdk ada suami tp ada Yesus yg menopang sy..Tx Gbu😇😇😇
BalasHapusPuji Tuhan, tetap kuat di dalam Tuhan ya bu.
Hapus