TIDAK SESUAI
DENGAN HARAPAN
Saat segalanya berjalan sesuai dengan
harapan sangat mudah bagi kita untuk bersukacita, namun bagaimana bila harapan
kita tidak terjadi, justru sebaliknya semakin buruk? Apakah kita dapat
bersukacita dan terus mempercayai bahwa Allah bisa mengendalikan situasi kita tersebut?
Seharusnya jawabannya adalah “Ya”, namun dalam kenyataannya kita sering tengelam dalam emosi negatif.
Terlalu sering kita berpikir sama seperti
orang-orang pada umumnya. Saat masalah datang, orang percaya seharusnya memiliki respon
dan cara berpikir yang berbeda dari yang lainnya. Kenyataan yang terjadi,
terkadang kita tidak bisa membedakan mana orang yang percaya dan mana yang
tidak; mana
yang merespon dengan iman dan yang merespon dengan emosi.
Saat saya berada di RS. Kanker Darmais dan
menunggu istri saya yang masih dirawat di ruangan ICU, saya mendengar seorang Perempuan Kristen
menangis dan menjerit kepada Tuhan karena melihat anaknya diruangan ICU yang dipakaikan
selang infus yang begitu banyak.
Di dalam ruangan itu dia tidak sendiri ada banyak
keluarga pasien yang lain menunggu keluarga mereka yang sedang dirawat di ruangan
ICU, mulai dari anak,
suami, istri, orang tua, mereka semua memiliki masalah yang sama dengan
Perempuan Kristen tersebut, yakni orang yang mereka cintai sedang berada
diruangan tersebut dalam keadaan tidak sadarkan diri dan menggunakan
banyak selang infus, termasuk istri saya saat itu.
Disisi yang lain saya melihat seorang
perempuan yang bukan Kristen yang disamping saya begitu tenang. Menghadapi
keadaan suaminya yang sudah dua minggu tidak sadarkan diri berada diruangan ICU. Setiap subuh jam 4
pagi dia bangun dan berdoa kepada Tuhannya meminta pertolongan atas suaminya.
Sementara perempuan Kristen tersebut tidak bisa mengontrol emosinya untuk
menjadi tenang. Ketika pasien berada diruangan ICU, kita sebagai keluarga tidak bisa melakukan
apapun untuk bisa menolong mereka. Satu hal yang terbaik yang dapat kita
lakukan adalah dengan menjadi tenang dan berdoa untuk menyerahkan keadaan
mereka ke dalam tangan Tuhan dalam iman kita kepada Yesus Kristus.
Memang ini adalah tantangan kita semua,
sewaktu istri saya diruangan ICU saya begitu tenang, saya sangat percaya dia dalam
keadaan baik-baik saja. Namun apa yang dialami wanita itu mengingatkan saya pada peristiwa ketika saya pulang dari Kuala Lumpur.
Setelah berbagai mujizat dan keajaiban
Tuhan dinyatakan dalam pelayanan di Malaysia, justru saya menemukan Hermin
dalam keadaan sakit. Sakit kepalanya begitu hebat. Kedua matanya yang semula
bisa melihat kini mulai kabur, hanya melihat bayang-bayang. Dia harus dituntun
oleh anak-anak untuk berjalan.
Nampak dari luar saya begitu tenang
menyingkapinya, namun emosi terdalamku, berbicara lain. Saya tidak bisa menerima kenyataan ini, saya katakan “Tuhan
mengapa Engkau ijinkan hal ini terjadi kepada istriku”. Banyak mujizat yang
telah Engkau lakukan lewat pelayanan anakMu ini, banyak orang ditolong oleh Tuhan; yang lumpuh berjalan, yang sakit cancer disembuhkan, yang terikat dibebaskan, bahkan yang hendak dibinasakan oleh kuasa gelap diselamatkan. Namun mengapa Engkau membiarkan sakit kepala yang hebat dan kebutaan terjadi
terhadap istriku.” Pertanyaan ini membayangiku setiap hari. Sulit rasanya
menerima kenyataan yang terjadi. Disalah satu sisi saya tetap memperlihatkan sikap yang
tegar namun sesungguhnya disisi lain saya jatuh dalam emosi jiwa.
Inilah yang saya maksudkan bahwa terlalu
sering kita berpikir di jalur yang sama dengan orang-orang pada umumnya. Saat
masalah datang bukan berpikir di dalam iman malahan pikiran kita ditaklukan
oleh emosi-emosi negatif kita.
Cara Tuhan mengajari kita berbeda dengan
dunia, karena itu sikap kita pun harus berbeda dengan dunia. Di sini saya
belajar apa artinya berharap, berharap itu memang gratis, namun berharap kepada
Tuhan harus bebas dari segala keterikatan pikiran dan perasaan kita dengan
emosi kita.
Apa maksudnya hal ini? Selama harapan kita
masih di dalam ego kita maka itu tidak akan bekerja dalam keajaiban. Semua
harapan yang ditaklukkan dalam ego manusia akan terjebak dengan
perhitungan-perhitungan manusia. Kita harus menyingkirkan
perhitungan-perhitungan humanisme kita.
Apa yang terjadi dengan saya adalah fakta
nyata bagaimana cara saya beriman dipengaruhi oleh peritungan-perhitungan
humanisme diri saya sendiri. Saya berpikir jika saya melakukan pekerjaan Tuhan
dengan menolong orang-orang memperoleh mujizat dan keajaiban dengan demikian
maka saya dan keluarga akan mengalami kemudahan dan dijauhkan dari segala
kekacauan, sakit penyakit dan penderitaan. Tetapi Justru yang saya dapatkan
sebaliknya istri saya semakin menderita. Penderitaan menimpah keluarga kami. Hal ini memukul hati saya.
Demikian juga dengan Perempuan Kristen yang
saya lihat bagaimana dia menggugat Tuhan dengan penuh emosi menjerit-jerit tidak bisa menerima
keadaan anaknya yang dipakaikan selang infus yang begitu banyak di ruangan ICU.
Akhir cerita anaknya tidak mungkin lagi diselamatkan, hidupnya berakhir di
ruangan ICU. Tetapi jeritan dan keluhannya tidak berakhir malahan semakin
menjadi-jadi. Meskipun banyak orang berusaha untuk menenangkannya, tetapi tetap
tidak berhasil.
Rasul Paulus pernah berkata, “Janganlah
hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal
keinginanmu kepada Allah dalam doa dan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang
melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:6-7).
Kedamaian atau ketenangan adalah keputusan
kita. Keputusan kita akan mempengaruhi keadaan kita. Jika kita putuskan
merespon segala masalah dengan emosi maka keadaan bukan tambah baik sebaliknya
semakin buruk. Dan setiap hal yang buruk ada harga yang harus dibayarkan.
Sama halnya saat kita memutuskan untuk
menggenakan kacamata yang harus kita pakai di siang hari. Di saat kita
memutuskan memakai kacamata hitam maka penglihatan kita akan dipengaruhi dengan
warna hitam. Bila menggunakan kacamata biru atau putih, pilihan warna tersebut tersebut akan
mempengaruhi penglihatan kita. Kacamata mana yang akan kita pilih maka kita akan
membayar harga tertentu untuk mendapatkan hasil penglihatan.
Demikian juga dengan cara kita memutuskan
sesuatu. Hal apa yang menentukan
keputusan kita. Jika kita memutuskan sesuatu berdasarkan kacamata emosi negatif
maka akan ada harga yang akan kita bayarkan
dalam situasi tersebut. Sebaliknya jika kita putuskan berdasarkan kacamata iman
maka tentu sudah pasti kita akan mendapatkan kedamaian dan ketenangan atas
keputusan kita.
Harusnya ini yang menjadi sikap kita
sebagai orang percaya, merespon dan memutuskan sesuatu dengan iman sehingga
dalam keadaan buruk sekalipun kita tetap memperoleh damai sejahtera dan ketenangan!
(BERSAMBUNG...)
By Karter JR